Mitos Atau Fakta: Benarkah Buta Warna Sepenuhnya Merupakan Penyakit Genetik?

Pandangan umum seringkali menganggap buta warna sebagai kondisi yang diturunkan dari orang tua. Lantas, benarkah buta warna sepenuhnya merupakan penyakit genetik yang diwariskan? Mari kita telaah lebih dalam mengenai fakta dan mitos seputar peran gen dalam kemampuan seseorang membedakan warna. Memahami akar penyebab buta warna penting untuk memberikan pemahaman yang tepat dan menghilangkan stigma yang mungkin ada.

Dr. Siti Aminah, seorang spesialis mata di Pusat Kesehatan Nasional Kuala Lumpur, menjelaskan dalam sebuah sesi edukasi daring pada Jumat, 9 Mei 2025, bahwa sebagian besar kasus buta warna memang disebabkan oleh faktor genetik. “Buta warna yang paling umum, yaitu buta warna merah-hijau, merupakan kondisi yang diturunkan melalui kromosom X. Karena wanita memiliki dua kromosom X, mereka cenderung menjadi pembawa gen buta warna tanpa mengalami gejalanya. Sementara pria, dengan hanya satu kromosom X, akan mengalami buta warna jika mewarisi gen tersebut,” terang Dr. Siti.

Lebih lanjut, Dr. Siti menambahkan bahwa jenis penyakit genetik ini biasanya bersifat kongenital, yang berarti sudah ada sejak lahir. Mutasi pada gen yang bertanggung jawab untuk produksi pigmen warna di sel kerucut retina menjadi penyebab utama kondisi ini. Kekurangan atau tidak adanya pigmen tertentu akan menyebabkan kesulitan dalam membedakan warna-warna tertentu, terutama merah dan hijau.

Sebuah studi kasus yang dipublikasikan oleh tim oftalmologi dari Universiti Malaya pada Sabtu, 10 Mei 2025, meneliti pola pewarisan buta warna dalam beberapa keluarga. Hasil analisis genetik menunjukkan adanya mutasi pada gen opsin merah dan hijau pada individu yang mengalami buta warna, sesuai dengan pola pewarisan resesif terkait kromosom X.

“Analisis silsilah keluarga dan pengujian genetik sangat membantu dalam mengidentifikasi pola pewarisan penyakit genetik seperti buta warna,” ungkap Profesor Dr. Tan Wei Liang, ketua tim peneliti, dalam laporan studinya. “Informasi ini penting untuk memberikan konseling genetik kepada keluarga yang memiliki riwayat buta warna.”

Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua kasus buta warna disebabkan oleh faktor genetik. Dr. Siti Aminah menjelaskan bahwa buta warna juga dapat terjadi akibat faktor lain, meskipun kasusnya relatif jarang. “Cedera mata, penyakit tertentu seperti glaukoma atau degenerasi makula, efek samping obat-obatan, atau paparan bahan kimia tertentu dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan penglihatan warna, atau buta warna yang didapat,” jelasnya.

Petugas kesehatan dari Klinik Mata Sentosa Kuala Lumpur, Encik Razak, saat memberikan penyuluhan kepada masyarakat pada Minggu pagi, 11 Mei 2025, menekankan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin untuk mendeteksi dini adanya gangguan penglihatan warna. “Meskipun buta warna genetik tidak dapat dicegah, pemahaman mengenai kondisi ini penting agar individu dapat beradaptasi dan menghindari pekerjaan atau aktivitas yang membutuhkan diskriminasi warna yang akurat,” ujarnya.

Kesimpulannya, sebagian besar kasus buta warna memang disebabkan oleh faktor penyakit genetik yang diturunkan, terutama buta warna merah-hijau. Namun, penting untuk diingat bahwa ada pula kasus buta warna yang didapat akibat faktor lain. Pemahaman yang akurat mengenai penyebab buta warna dapat membantu menghilangkan kesalahpahaman dan memberikan dukungan yang tepat bagi individu yang mengalaminya.

Pandangan umum seringkali menganggap buta warna sebagai kondisi yang diturunkan dari orang tua. Lantas, benarkah buta warna sepenuhnya merupakan penyakit genetik yang diwariskan? Mari kita telaah lebih dalam mengenai fakta dan mitos seputar peran gen dalam kemampuan seseorang membedakan warna. Memahami akar penyebab buta warna penting untuk memberikan pemahaman yang tepat dan menghilangkan stigma yang…